Negarawan pemimpin Athena bernama Pericles menyampaikan pidato terkenalnya, Funeral Oration, untuk membangkitkan semangat para warga Athena di akhir tahun 431 SM. Athena mengerahkan armada besarnya dan dengan mudah menguasai seluruh lautan dari Aegean, Ionia dan Adriatik. Strategi Pericles adalah mengurung Sparta beserta semua sekutunya dari laut, memblokade perdagangan ke Semenanjung Peloponnesia. Selain itu, operasi darat akan dilakukan sekutu Athena di Peloponnesia yaitu musuh bebuyutan Sparta, kota Argos.
Sparta memang superior di medan tempur, tetapi pasukannya tidak bisa terus menerus menduduki Attica. Musim Kampanye berakhir saat musim panen tiba dan pasukan Sparta kembali setelah hanya 3 minggu menduduki Attica. Selain panen, Sparta juga rentan akan pemberontakan populasi budaknya (helot) yang sangat besar karena itu pasukannya tidak bisa lama di luar Sparta.
DOMINASI ATHENA
Memasuki tahun 430 SM, bencana menimpa Athena. Bukannya pasukan Sparta, tetapi sebuah wabah penyakit yang diduga menewaskan sekitar 30.000 warga Athena dan wilayah sekitarnya. Salah satu korbannya adalah Pericles, sepeninggalan sang strategos, Athena mengubah strateginya menjadi manpower Athena berkurang drastis.
Kekosongan yang ditinggalkan Peicles diisi oleh seorang bernama Cleon, yang akan memimpin Athena. Di tahun 429 SM, Athena memenangkan dua pertempuran laut di Rhium dan Naupactus, armada Peloponesia semakin melemah. Cleon mulai melancarkan kampanye darat, ke wilayah Beoetia dan Aetolia. Sparta juga terus mengirim pasukan ekspedisi ke Attica. Sebuah armada dan pasukan Athena bernama Demosthenes memerintahkan pembangunan sebuah markas militer di Pylos. Keberadaan basis Athena di Peloponnesia membuat Sparta khawatir dan mengirim pasukan besar di bawah jendral Brasidas.
Pasukan besar Sparta berhasil dikalahkan oleh Demosthenes pada Pertempuran Pylos tahun 425 SM. Kemenanganb ini cukup mengejutkan karena Demosthenes bisa memukul mundur pasukan Sparta yang unggul jumlah dan memiliki reputasi besar. Pada tahun yang sama Cleon juga menorehkan kemenangan besar pada Pertempuran Sphacteria, menawan 300 Hoplite Sparta. Semakin tertekan, Brasidas menggalang pasukan dari sekutu dan budak budak Sparta, dan berhasil menjatuhkan Amphipolis (koloni Athena di Thrakia) pada tahun 424 SM.
Athena mengirim pasukan ke Amphipolis, tetapi mereka mengalami kekalahan pada tahun 442 SM. Sebelum Pertempuran Ampipholis, Brasidas dan Cleon gugur. Tidak adanya figur kuat seperti 2 jendral tersebut, mendorong kedua kubu untuk berdamai. Perdamaian Nicias disetujui Athena dan Sparta pada fase pertama dari Perang Peloponnesia.
PERDAMAIAN NICIAS
Nicias merupakan jendral Athena yang menggantikan Cleon. Setelah sekitar 10 tahun, Athena dan Sparta memutuskan untuk menghentikan perang. Raja Pleistoanax dari Sparta memulai negosiasi dengan Nicias. Kedua belah pihak setuju untuk mengembalikan teritori yang telah mereka taklukan, Athena mengembalikan tawanan perang dan Sparta mengembalikan Amphipolis. Dalam perjanjian ini juga diungkapkan bahwa Athena diperbolehkan mempertahankan Liga Delian dan juga pelabuhan Nisaea, Thebes (sekutu Athena) diperbolehkan mempertahankan Plataea.
Perang ini seharusnya bisa berakhir dengan perjanjian ini, akan tetapi dari awal sebagian besar anggota Liga Peloponnesia seperti Corinth, Elis dan Mantinea menolak untuk menyutujui perjanjian ini. Rasa segan Elis dan Mantinea pada Sparta merosot, karena Sparta menyutujui perjanjian yang lebih memberatkan Liga Peloponnesia. Athena mendorong Elis dan Mantinea untuk memberontak dan membentuk koalisi dengan musuh Sparta yaitu Argos.
Kontras diantara Athena dan Sparta tidak hanya pada kekuatan militer mereka, tetapi dalam bentuk negara juga. Athena merupakan jawara pembentukan pemerintahan demokratis, sedangkan Sparta berbentuk kerajaan Oligarkis. Athena mendukung lahirnya demokrasi di Elis dan Mantinea, memperkuat ikatan mereka dengan Liga Delian. Sparta juga akhirnya tidak menghormati persetujuannya dengan Athena karena memerintahkan pasukannya menduduki Amphipolis. Pada tahun 418 M, melihat kelemahan Sparta, koalisi Peloponnesia yang dipimpin Argos dan didukung Athena menyerang Sparta.
Pertempuran Mantinea (418 SM) merupakan pertempuran darat terbesar dalam Perang Peloponnesia, masing masing kubu mengerahkan 10 ribu prajurit. Raja Aegis II berhasil memenangkan pertempuran besar ini, menunjukkan superioritas Hoplite Sparta yang sempat jatuh. Kemenangan di Mantinea menyelamatkan Sparta dari kekalahan mutlak perang ini dan sanggup mengembalikan posisinya sebagai kekuatan pemimpin Semenanjung Peloponnesia. Mantinea, Arcadia dan Elis kembali menjadi anggota liga. Perdamaian Nicias terbukti tidak efektif dan pada akhirnya perang tahap kedua resmi kembali bergulir pada tahun 414 SM.
Perang besar Bangsa Yunani ini mencangkup banyak wilayah, bahkan mencapai wilayah koloni Yunani di Sisilia. Athena mendapatkan informasi bahwa sekutunya di Sisilia mendapatkan serangan dari Kota Syracuse pada tahun 415 SM. Syracuse memiliki ikatan kultur yang kuat dengan Sparta, sama sama beretnik Yunani Dorian. Meski berdalih untuk membantu sekutu mereka, Athena juga memiliki ambisi untuk menaklukan Sisilia.
Tetapi di saat perang ini, terjadi pembelotan dari Alcibiades, jendral penting Athena yang beralih pihak ke Sparta. Alcibiades mendorong Sparta untuk kembali menyatakan perang pada tahun 414 SM. Nicias dikirim ke Sisilia dengan 5000 prajurit dan 100 kapal perang. Akan tetapi bukannya langsung menyerang Syracuse, Nicias terlalu banyak menghabiskan waktu untuk persiapan. Menggunakan waktu ini, Syracuse meminta bantuan Sparta langsung mengirim pasukan ke Sisilia di bawah komando Gylippus. Pasukan gabungan Sparta dan Syracuse berhasil memenangkan banyak pertempuran melawan Nicias.
Nicias meminta bantuan Athena yang mengirimkan Demosthenes, akan tetapi pasukan Athena tetap tidak bisa mengalahkan Sparta. Demosthenes meminta anjuran Nicias untuk menarik mundur pasukannya dari Sisilia. Lagi-lagi Nicias menunjukkan ketidakcakapannya, terlalu lama memutuskan untuk memutuskan langkah. Nicias memberikan Syracuse waktu untuk mengumpulkan armada. Ketika Nicias akhirnya memutuskan untuk mundur, armada Athena disergap kapal kapal Syracuse. Pasukan Nicias yang selamat berusaha melarikan diri tetapi mereka dapat dihancurkan kavaleri Syracuse.
Ekspedisi Athena di pulau Sisilia berakhir dengan kegagalan besar, pasukan Athena hancur dan armadanya lumpuh. Sementara itu, setelah berhasil di Sisilia, Sparta semakin yakin untuk memulai perang kembali dan memanfaatkan kelemahan Athena. Setelah didominasi Athena pada perang tahap pertama (431 - 421 SM), Sparta membalik arus pada tahap kedua (414 - 404 SM).
BABAK BARU
Sparta yang baru menang besar di Sisilia mulai mempersiapkan diri untuk membawa bara dan baja langsung ke Athena. Alcibiades memimpin pasukan Sparta ke Attica, disini dia membentuk basis dan benteng kuat, tepatnya di pemukiman Decelea. Keberadaan benteng ini selain memotong akses Athena ke lahan produktif, juga sangat mengganggu tambang perak Athena di area tersebut. Hal ini memaksa Athena untuk disuplai dari laut dan menuntut upeti yang lebih besar pada kota kota Liga Delian, menumbuhkan sentimen negatif kepada Athena.
Athena berada di ujung tanjuk tetapi mereka masih bisa selamat karena berbagai alasan. Pertama dan mungkin terutama adalah kurangnya inisiatif dari musuh musuh Athena. Sparta tidak mengubah strategi, tetap mengandalkan operasi rutin di Attica sedangkan Corinth dan Syracuse terlalu lambat dalam mengarahkan armadanya ke laut Aegean dan Ionia. Athena juga memiliki harta dan armada cadangan yang telah dipersiapkan sebelum perang, menggunakan armada ini Athena menjarah pesisir Peloponnesia.
Athena bisa bertahan selama beberapa tahun, ketika meletus kudeta dari dalam Athena. Revolusi ini berhasil menggulingkan demokrasi di Athena dan membuat kondisi domestik kota ini tidak stabil. Terdapat suatu armada Athena yang menolak kepemerintahan baru Athena dan bertempur melawan melawan armada Sparta di Pertempuran Symne (411 SM) tetapi mereka kalah. Peristiwa rumit kembali terjadi ketika kubu ini menjadikan Alciabides sebagai pemimpin mereka, meski Alciiades sebelumnya telah beralih pihak ke Sparta.
Alcibiades mengembalikan demikrasi Athena dan kembali memimpin pasukan Athena. Ia berhasil memenangkan pertempuran laut besar melawan armada Sparta pada Pertempuran Cyziscus (410 SM) dan juga beberapa kemenangan lain. Situasi kembali berimbang diantara Athena dan Sparta, setelah sebelumnya Sparta sempat mendominasi.
Ketika konflik Perang Peloponnesia telah menjadi suatu yang kompleks, Imperium Persia Achaemenid menjadikannya semakin rumit dengan dukungannya pada Sparta. Pada tahun 414 SM, Darius II berambisi untuk mengurangi kekuatan Athena di Ionia. Paska bencana ekspedisi Athena di Sisilia, Darius II berhasil mendapatkan banyak wilayah di Ionia. Salah satu satrap (gubernur) Persia bernama Tissaphernes diperintah Darius II untuk beraliansi dengan armada Sparta di Laut Aegean.
Menghadapi kebangkitan Athena pada tahun 408 - 406 SM, Darius II mengirimkan putranya Koresh sebagai Satrap Asia Kecil, Phyria dan Cappadocia dan jendral pasukan Persia. Koresh beraliansi dengan jendral Sparta yang baru bernama Lysander. Koresh juga memiliki ambisi lain yaitu merebut posisi putra mahkota dari kakaknya yaitu Artaxerxes II, sementara itu Lysander berkeinginan menundukkan daratan Yunani. Ketika Koresh dipanggil oleh ayahnya yang tengah sakit, dia memberi semua sumber daya Asia Kecil kepada Lysander.
Lysander merupakan jendral ambisius dan cakap sebagai komandan militer baik di darat maupun di laut. Sparta harus memenangkan pertempuran Laut sebelum bisa memenangkan perang ini, Lysander mendapatkan kesempatan ketika salah satu jendral Athena bernama Antiochus melakukan blunder. Di tahun 406 SM, melawan perintah jendral Alcibiades, Antiochus mengerahkan armada kecil Athena di kota Ephesusuntuk memancing armada Sparta. Pancingannya berhasil, tetapi Antiochus mengalami kekalahan melawan Lysander dalam Pertempuran Notium (406 SM)
Meski kemenangannya tidak begitu besar, Lysander telah menorehkan kemenangan simbolis yang penting. Dia menunjukkan bahwa armada Athena bisa dikalahkan dan melejitkan popularitas Lysander diantara rakyat Sparta. Tetapi Athena juga menorehkan kemenangan besar di Laut Ionia pada Pertempuran Arginusae (406 SM) melawan jendral Calicraditas, sayangnya mereka tidak melanjutkan kemenangan ini dengan operasi lanjutan dan armada mereka terkena badai.
PERTEMPURAN AEGOSPOTAMI
Paska Pertempuran Notium (406 SM), Alcibiades berhenti dari posisi panglima Athena dan mengasingkan diri. Kemenangan Athena di Arginusae (406 SM), justru diikuti eksekusi 6 admiral yang dinilai rakyat gagal mengakhiri perang. Tanpa kepemimpinan yang cakap, supremasi Athena di laut terjatuh. Lysander memanfaatkan gejolak domestik Athena dan mulai mengerahkan armada Sparta yang dibantu Persia padea tahun 405 SM.
Lysander menyerang selat Hellespont (Dardanelles), kawasan ini merupakan sumber pangan terakhir bagi Athena. Tentu saja ini memaksa Athena untuk mengirim armada terakhir mereka. Pertempuran hebat meletus di muara Sungai Aegospotami, Lysander dengan 170 kapal melawan Athena dengan 180 kapal. Salah satu jendral Athena bernama Philocles berusaha memancing armada Sparta dengan mengerahkan 30 kapal dan menginstruksikan sisa armada untuk segera menyerang ketika armada Sparta telah terpancing. Philocles berhasil berhasil memancing armada Sparta, akan tetapi sisa armada Athena tidak kunjung menyusulnya.
30 kapal perang Athena dikalahkan dengan mudah dan cepat. Armada Sparta segera melanjutkan serangan ke basis Athena di pantai belum ada persiapan sama sekali. Lysander meluluhlantahkan sisa armada Athena. 160 kapal Athena ditangkap dan ditenggelamkan, sisanya berhasil melarikan diri. Karena takut akan hukuman Athena atas kegagalannya, salah seorang jendral bernama Colon melarikan diri ke Cyprus bersama 9 kapal.
Pertempuran Aegospotami (405 SM) merupakan pertempuran besar terakhir dalam Perang Peloponnesia. Athena dibuat lumpuh, tanpa pasukan, armada dan suplai pangan. Lysander sempat kembali ke Sparta sebelum kampanye lagi ke Laut Aegean dan Attica. Lysander mengepung Samos (anggota Delian yang masih setia pada Athena) dan kota Athena. Penduduk Athena masih berusaha untuk tidak menyerah, tapi tanpa pasokan pangan dan akses ke laut, kota ini sudah tidak memiliki harapan.
Pada bulan Maret tahun 404 SM, setelah dikepung oleh pasukan Sparta, akhirnya kota Athena menyerah. Menyerahnya Athena diikiuti oleh sekutu-sekutu Liga Delian-nya, Samos menjadi terakhir untuk menyerah. Dengan ini berakhirlah Perang Peloponnesia yang telah telah berlangsung salama 27 tahun. Kota Sparta dan Liga Peloponnesia berhasil menang.
Beberapa kota seperti Corinth dan kota lain menuntut supaya Athena sepenuhnya dibumihanguskan dan semua penduduknya diperbudak. Sparta menolak tuntutan ini, mereka menolak untuk menghancurkan kota yang telah berperan besar bagi Bangsa Yunani ketika bangsa ini menghadapi bahaya luar biasa yaitu invasi Persia. Sparta juga menginginkan persekutuan bangsa Yunani dijaga. Oleh karena itu, Sparta lebih memilih untuk mengintegrasikan Athena ke dalam sistem Sparta. Athena diharuskan untuk menghancurkan tembok kota mereka, sebuah pernyataan simbolis Athena tidak melawan lagi. Semua armada dan posesi Athena di Laut Aegean dan Ionia diserahkan pada Sparta, begitu juga harta upeti Liga Delian. Athena juga secara 'de facto' menjadi anggota Peloponnesia, karena wajib mengirim pasukan ketika Sparta berperang.
Sparta mengukuhkan sistem oligarkis di Athena, menghapus demokrasi kota tersebut. Pemerintahan ini dikenal sebagai "Tiga Puluh Tiran", dimana 30 orang berkuasa yang dipimpin seorang bernama Critias berkuasa di Athena. Rezim Critias diingat sebagai rezim teror. Pemerintahannya membunuh, mengeksekusi dan mengasingkan ribuan warga Athena untuk memperkaya diri. Akibatnya rezim ini hanya bertahan 8 bulan dan sistem demokratis kembali ke Athena.
Perang Peloponnesia merupakan konflik yang rumit dan kompleks, tapi juga penting. Perang ini menjadi akhir dari zaman emas pertama bangsa Yunani. Lemahnya negara-kota Yunani membuka jalan bagi Philip II dari Makedonia untuk mempersatukan bangsa ini.




